Rabu, 16 Februari 2011

Catatan Harianku >> SENJA ITU...


Jika cinta itu angin,
rentangkan layarku pada udara
yang tak panas dan tak dingin
Jika cinta itu laut,
layarkan perahuku pada ombak
yang tak badai dan tak mati
(Ahmadun Yos Herfanda)

Menjelang maghrib, saat hujan rintik-rintik…
Hujan masih rintik-rintik, kesunyian mendera. Langit tampak masih mendung. 
Titik-titik hujan merangkai lukisan dikaca jendela rumah.
Duduk termenung dan memandang halaman rumah..
Hujan senantiasa memberiku inspirasi–inspirasi tak terduga. 
Bisa dari harmonisasi suara titik-titiknya, semerbak harumnya tatkala bersatu dengan tanah, perpaduan gerak tetes-tetesnya, membentuk gambar-gambar lembut dimana-mana, juga di hati ini.
Entah mengapa, seperti film dokumenter, berputar menghadirkan sekian episode masa lalu. Begitu hidup, begitu dekat..

Senja ini membuatku termenung dan tersadar, waktu begitu cepat berlalu.. Padahal, rasanya segalanya yang kulalui seperti baru kemarin-kemarin terasa..
                    
Seperti kata Ifah Afianti (Red: Penulis Buku Catatan Seorang Ukhti), bicara soal hujan adalah bicara soal TAKDIR. Seperti turunnya hujan ke bumi, menjadi penyubur & penyejuk, sekaligus menjadi bencana dan penyakit, maka masa-masa yang kita lewati juga adalah kehendaknya. Hidup kita bukanlah diri kita yang memiliki, Tapi Allah yang punya. Segalanya mesti kujalani dan kita lalui.
Meski tumbuh diatas tanah yang sama, dibawah guyuran hujan yang sama, setiap batang rumput dan pohon tumbuh dengan caranya yang berbeda-beda. 
Tak ada alur dan jalan hidup yang sama, yang dilalui setiap orang. Semuanya selalu berbeda. 
Tak ada juga jalan hidup yang datar tanpa gelombang. Semuanya selalu memiliki dinamikanya sendiri-sendiri. 
Tidak ada seorang pun yang menjalani hidup dalam kondisi selalu senang. Tidak juga selamanya dalam kesulitan. Semua selalu bergantian, bersisipan antara senang dan sedih, lapang dan sulit. Begitulah..

Hidup seperti sehelai kertas kosong, tiap kita dan segala peristiwa adalah cerita yang ditulis diatasnya. 
Perjalanan kehidupan adalah buku yang harus dipelajari dan diambil hikmahnya. Sebab itu Rosulullah memandang seseoarang tidak dilihat dari panjang pendek usia hidupnya melainkan pada bagaimana ia bisa memanfaatkan kesempatan hidup yang dimilikinya.
Kalau kita menerima takdir dan keputusan Allah. Hidup ini akan menjadi tenang. Tapi kalau kita menolak takdir kita mesti bertarung dengan perasaan kita yang sungguh menyakitkan.

Adzan maghrib berkumandang… hujan mulai reda..


Titik titik hujan masih membasahi
kala kau menyapa pelangiku
 ingin ku berlari
 jumpa bidadari
bawalah aku pergi bersamamu..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar